Apa Itu Ghost Festival (Jit Gwee)?
Ghost Festival, atau dalam bahasa Hokkien dikenal sebagai Jit Gwee, adalah tradisi Tionghoa yang penuh dengan nilai spiritual dan budaya. Festival ini jatuh pada bulan ketujuh kalender lunar (sekitar Juli–Agustus dalam kalender Masehi). Pada masa ini, masyarakat Tionghoa percaya bahwa gerbang dunia arwah terbuka, sehingga roh leluhur dan arwah kelaparan turun ke dunia manusia. Inilah saatnya doa, sesaji, dan ritual dilakukan untuk menghormati leluhur serta menenangkan roh yang tidak memiliki keluarga.
Sejarah dan Asal-Usul Ghost Festival
Asal-usul Ghost Festival dapat ditelusuri dari perpaduan Taoisme dan Buddhisme. Dalam Taoisme, bulan ketujuh dianggap sebagai bulan hantu, di mana roh gentayangan berkeliaran di dunia manusia. Sementara itu, Buddhisme mengenal kisah Mulian (Maudgalyayana) yang berusaha menyelamatkan ibunya dari penderitaan di alam arwah dengan memberikan persembahan. Kisah ini kemudian menginspirasi umat untuk melakukan ritual persembahan dan doa, agar arwah leluhur mendapatkan kedamaian.
Kapan Ghost Festival Dirayakan?
Ghost Festival biasanya dirayakan pada tanggal 15 bulan ketujuh lunar, yang sering disebut juga sebagai Zhongyuan Jie (中元节). Dalam kalender Masehi, tanggal ini berubah setiap tahunnya, tetapi biasanya jatuh antara pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus. Pada hari ini, puncak perayaan dilakukan dengan upacara besar, sesaji makanan, serta doa untuk leluhur.
Tradisi dan Ritual Ghost Festival
Tradisi yang dilakukan dalam Ghost Festival sangat beragam, tergantung daerah dan keluarga. Beberapa ritual yang umum dilakukan antara lain:
Persembahan makanan untuk leluhur seperti buah, nasi, teh, dan hidangan khusus.
Membakar dupa dan kertas emas/perak (joss paper) yang dipercaya sebagai bekal untuk arwah di alam lain.
Memberi sesaji untuk arwah tanpa keluarga, sebagai bentuk kepedulian agar mereka tidak mengganggu manusia.
Pertunjukan opera Tionghoa atau wayang yang dipercaya dapat menghibur arwah yang turun ke dunia.
Pantangan dan Larangan Selama Ghost Festival
Selain ritual, ada juga pantangan yang dipercaya harus dipatuhi untuk menghindari kesialan, antara lain:
Tidak keluar terlalu malam agar tidak “berpapasan” dengan roh.
Tidak berenang, karena dipercaya roh air bisa menarik orang tenggelam.
Tidak memungut uang atau barang yang ditemukan di jalan.
Tidak menjemur pakaian di malam hari, karena bisa “dipakai” roh.
Tidak sembarangan menyalakan lilin atau dupa di luar altar persembahan.
Makna dan Keuntungan Merayakan Ghost Festival
Di balik nuansa mistisnya, Ghost Festival mengandung banyak makna positif:
Penghormatan kepada leluhur, sebagai wujud rasa syukur dan menjaga hubungan spiritual dengan keluarga yang telah tiada.
Kebersamaan keluarga, karena ritual biasanya dilakukan bersama-sama.
Kepedulian sosial, dengan memberi sesaji kepada arwah tanpa keluarga sebagai simbol berbagi.
Refleksi spiritual, karena festival ini mengingatkan manusia akan keterbatasan hidup dan pentingnya berbuat baik.
Ghost Festival di Era Modern
Meskipun dunia semakin modern, tradisi Ghost Festival masih hidup hingga sekarang. Di Tiongkok, Taiwan, Hong Kong, Singapura, Malaysia, dan komunitas Tionghoa di seluruh dunia, festival ini tetap dirayakan dengan meriah. Bahkan, beberapa tempat menjadikannya festival budaya dengan pertunjukan seni, bazar makanan, dan doa bersama. Tradisi kuno ini tetap relevan karena mengajarkan nilai-nilai universal seperti penghormatan, kebersamaan, dan kepedulian.
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Festival Mistis
Ghost Festival bukan hanya tentang cerita seram atau pantangan. Lebih dari itu, festival ini adalah warisan budaya Tionghoa yang sarat dengan nilai penghormatan leluhur, rasa kebersamaan, serta kepedulian terhadap sesama. Di balik dupa, sesaji, dan doa, tersimpan pesan bahwa manusia hidup tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk menjaga hubungan dengan leluhur dan sesama.
Baca artike lain di Indo ramal

One thought on “Indo Ramal : Ghost Festival Tradisi Tionghoa Saat Dunia Manusia dan Arwah Bertemu”